Psikosomatik Bisa Membuat Seseorang Merasakan Gejala COVID-19

Situasi virus corona (COVID-19) Minggu (22/3/2020) seperti dilaporkan dalam laman resmi pemerintah covid19.go.id; secara global COVID-19 telah terdeteksi di 159 negara/kawasan, dengan kasus terkonfirmasi 244.525, sembuh 86.032, kematian 10.031. Di Indonesia, terkonfirmasi positif 514, sembuh 29, meninggal 48.
Mungkin Anda termasuk yang rajin mengikuti dan memantau perkembangan COVID-19 di dunia terutama di Indonesia. Membaca kabar selebritas yang didiagnosa positif COVID-19 atau pasien yang meninggal dunia di kota tempat tinggal Anda, terus menerus selama beberapa minggu belakangan ternyata memberi pengaruh besar pada mental, lho.
Jangan heran kalau tiap sore hari menjelang pengumuman update terbaru kasus di Indonesia, tiba-tiba tenggorokan terasa gatal dan tubuh terasa meriang, namun setelah diukur ternyata suhu tubuh normal. Selain kemungkinan benar-benar terinfeksi, bisa juga itu adalah reaksi psikosomatik.
Gejala psikosomatik muncul sebagai reaksi tubuh yang siaga terus menerus, dalam kondisi saat ini, menghadapi COVID-19.
Dilansir dari laman American Psycological Association, reaksi psikosomatis bisa muncul karena berbagai sebab, antara lain media sosial, berita yang tidak akurat, terlalu banyak informasi, dan ketidakmampuan mengendalikan stres. Apalagi ditambah dengan anjuran menjaga jarak secara fisik yang penting dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus. Berikut beberapa tip menjaga kesehatan mental di tengah pandemik COVID-19, yang disarankan oleh PDSKIJAYA, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa DKI Jakarta dan WHO:
1.  Menerima bahwa rasa tidak nyaman yang muncul adalah kewajaran. Penerimaan munculnya kecemasan atau perasaan lain dalam diri, akan membantu mengelola perilaku.            penolakan perasaan yang mucul justru akan membuat perasaan ity semakin besar dan tidak terkontrol.
2.  Komunikasi dengan orang yang dapat membuat Anda nyaman. Tidak boleh berada dekat dengan orang lain secara fisik (saat isolasi) atau berada di keramaian, bukan berarti          tidak boleh berkomunikasi. Manfaatkan alat komunikasi seperti telepon genggam dengan berbagai aplikasi dan fitur untuk berkomunikasi dengan kerabat dan sahabat.                    Berbagi perasaan adalah cara efektif dalam mengelola emosi.
3. Terapkan pola hidup bersih sehat. Tidur teratur, aktivitas fisik yang bisa dilakukan dalam ruangan, cuci tangan secara berkala, relaksasi menghirup udara segar di pekarangan         atau balkon, dan makan makanan bergizi merupakan aktivitas yang dapat bermanfaat menjaga daya tahan tubuh.
4. Pantau informasi perkembangan keadaan dari sumber yang tepat dan tepercaya, misal dari WHO dan Kementerian Kesehatan. Hindari laporan media dan broadcast chat yang       sumbernya tidak jelas dan cenderung mengkhawatirkan. Jangan pula ikut menyebarkan info yang tidak akurat. Namun batasi, jangan berlebihan.
5. Ketika ketidaknyamanan muncul, alihkan dengan aktivitas menyenangkan. Gunakan cara-cara yang sebelumnya efektif bagi Anda. Sebisa mungkin hindari gadget. Alihkan              dengan aktivitas seperti bermain dengan keluarga, membaca buku, menonton film, relaksasi, menata rumah, berkebun, mendengarkan musik, berdoa, dan aktivitas lain yang         dapat membuat Anda berfokus pada saat ini (here and now).
6. Jangan merokok, minum alkohol, atau narkoba untuk mengatasi perasaan tidak nyaman.

Jika Anda tak lagi bisa mengendalikan stres atau perasaan yang tidak nyaman segera berkonsultasi dengan profesioal seperti psikiater atau psikolog. Atau hubungi  hotline COVID-19 Kemenkes: 021-5210411, 081212123119.

WhatsApp chat